Rembang-Infomuria.com-Hari AIDS Sedunia yang jatuh pada tanggal 1 Desember diperingati untuk menumbuhkan kesadaran terhadap wabah AIDS di seluruh dunia yang disebabkan oleh penyebaran virus HIV.

Menurut Martha Gusmantika, Epidemolog Kesehatan Muda sekaligus pengelola program HIV Dinas Kesehatan Kabupaten Rembang, Acquired Acquired Immune Deficiency Syndrome (disingkat AIDS) adalah sekelompok gejala dan infeksi (atau: sindrom) yang timbul karena rusaknya sistem kekebalan tubuh manusia akibat infeksi virus HIV (Human). Virus Imunodefisiensi).

Martha menyebut terdapat 102 kasus baru selama tahun 2023 yang terdiri dari 67 kasus HIV dan 35 AIDS. Sedangkan tahun 2022 ada 162 kasus, terdiri atas 102 kasus AIDS dan 60 HIV.

“Kalau AIDS itu sudah stadiumnya menuju 3 atau 4, sedangkan HIV itu belum ada gejalanya tetapi sudah terdeteksi membawa virus HIV di dalam tubuhnya. Tahun ini teman-teman Puskesmas gencar melakukan klinik seluler ke semua populasi kunci, seperti pekerja seks komersial, lelaki dengan kecenderungan seks menyimpang dari sesama jenis, pengguna narkoba menyuntikkan dan warga binaan pemasyarakatan. Jadi ketemunya masih dalam fase HIV, ” tuturnya.

Mobile klinik juga menyasar populasi khusus seperti ibu hamil, pasien tuberkulosis, pasien infeksi menular seksual dan pasien hepatitis.

“Mereka ini wajib kita melakukan tes HIV/AIDS setiap tahunnya. Karena orang yang termasuk sebagai populasi kunci dan khusus ini sangat rentan terkena HIV,”terangnya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan ketika masalah terkait masih ditemukannya HIV, maka penanganannya lebih mudah. Tim medis akan memberikan pengobatan secara rutin dan dampak positifnya kondisinya tidak akan semakin buruk menjadi AIDS.

“Kalau HIV ini selamanya (tidak dapat disembuhkan) tapi kan ketika kita obati rutin, terapi, kita kendalikan virusnya, virusnya tidak membelah diri mengikis imun kita, yang bersangkutan tidak sampai sakit, tidak sampai aids. AIDS bisa berupa kumpulan gejala yang terjadi di tubuh manusia, kalau HIV mungkin dia masih bisa bekerja dan beraktivitas,” ungkapnya.

Program pengobatan gratis terhadap pasien HIV/AIDS oleh Pemkab Rembang melalui Dinas Kesehatan telah dilakukan sejak tahun 2016 hingga sekarang. Dan setiap menemukan yang terjangkit HIV/AIDS langsung menjalani program pengobatan.

“Obat dan terapinya gratis seumur hidup. Anggarannya dari pemerintah pusat,” imbuh Martha.

Untuk menjamin pasien rutin mengikuti program pengobatan, Pemkab Rembang menyediakan konselor HIV untuk mengedukasi mereka. Semua itu bertujuan agar mereka tetap sehat dan produktif.

Orang dengan HIV (ODHIV) ditemukan di Kabupaten Rembang sejak tahun 2004. Hingga Oktober 2023, Martha menyebut secara akumulatif ada 1.228 orang yang terkena HIV/AIDS.

“Dari jumlah itu sekitar 40 persennya masih rutin mengikuti pengobatan. Sebagian besar juga meninggal, karena ditemukan sudah dalam fase AIDS, seperti pada tahun 2022 ada 5 pasien yang meninggal, jadi 2023 ini dan yang rutin berobat hingga saat ini ada 465 pasien.”

17 puskesmas dan 4 rumah sakit di Rembang bisa melayani tes dan pengobatan HIV/AIDS. Di setiap puskesmas dan rumah sakit tesebut juga tersedia Konselor HIV, sehingga identitas pasien tetap terjaga.

“Kami ada kode etik untuk menyembunyikan nama pasien. Sehingga yang kami keluarkan hanya data angka bukan nama, ini privasi,” ucapnya.

Dinas Kesehatan juga melakukan upaya preventif melalui sosialisasi atau kampanye HIV /AIDS dan penyakit lainnya yang dikemas dalam Aku Bangga Aku Tahu (ABAT) di sekolah dan masyarakat.

Sumber : Humas Pemkab

Back To Top