Liputan Khusus Tentang Pertalite Hilang di Tahun 2024

PT Pertamina (Persero) telah mengumumkan bahwa BBM RON 90 alias Pertalite akan dihapus pada tahun 2024. Hal ini dilakukan untuk memenuhi aturan standar Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) yang menyatakan bahwa batas minimal oktan number yang boleh dijual di Indonesia adalah 91.

Penghapusan Pertalite tentu saja akan berdampak pada masyarakat Indonesia, khususnya pengguna kendaraan bermotor. Pertalite merupakan BBM yang paling terjangkau di Indonesia, sehingga banyak masyarakat yang menggantungkan diri pada BBM ini.

A. Dampak dari hilangnya Pertalite di tahun 2024

Berikut adalah beberapa dampak dari hilangnya Pertalite di tahun 2024:

Kenaikan biaya transportasi

Pengguna Pertalite akan beralih ke BBM dengan oktan yang lebih tinggi, seperti Pertamax atau Pertamax Turbo. Hal ini tentu saja akan menyebabkan kenaikan biaya transportasi, karena harga BBM non-subsidi lebih tinggi dari Pertalite.

Meningkatnya inflasi

Kenaikan biaya transportasi akan berdampak pada kenaikan harga barang-barang dan jasa. Hal ini akan meningkatkan inflasi, sehingga daya beli masyarakat menurun.

Berkurangnya konsumsi BBM

Penghapusan Pertalite akan mendorong masyarakat untuk menggunakan kendaraan yang lebih hemat bahan bakar, seperti sepeda motor listrik atau mobil listrik. Hal ini akan mengurangi konsumsi BBM di Indonesia.

B. Upaya Yang Perlu Ditempuh Pemerintah

Pemerintah Indonesia perlu melakukan upaya-upaya untuk mengurangi dampak dari hilangnya Pertalite. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah dengan memberikan subsidi kepada masyarakat miskin dan rentan. Selain itu, pemerintah juga perlu mendorong pengembangan kendaraan listrik agar masyarakat memiliki alternatif kendaraan yang lebih hemat bahan bakar.

Berikut adalah beberapa upaya yang dapat dilakukan oleh pemerintah untuk mengurangi dampak dari hilangnya Pertalite:

Memberikan subsidi kepada masyarakat miskin dan rentan

Subsidi dapat diberikan kepada masyarakat miskin dan rentan untuk membantu mereka membeli BBM non-subsidi. Hal ini akan mengurangi beban masyarakat miskin dan rentan dalam menghadapi kenaikan biaya transportasi.

Mendorong pengembangan kendaraan listrik

Pemerintah perlu mendorong pengembangan kendaraan listrik agar masyarakat memiliki alternatif kendaraan yang lebih hemat bahan bakar. Hal ini dapat dilakukan dengan memberikan insentif pajak dan subsidi untuk pembelian kendaraan listrik.

Meningkatkan efisiensi penggunaan BBM

Pemerintah perlu melakukan edukasi kepada masyarakat tentang pentingnya efisiensi penggunaan BBM. Hal ini dapat dilakukan dengan memberikan informasi tentang cara-cara menghemat BBM, seperti menggunakan teknik berkendara yang tepat dan melakukan perawatan kendaraan secara rutin.

C. Sejarah Panjang Pertalite

Pertalite merupakan bahan bakar minyak (BBM) dengan oktan 90 yang diproduksi oleh PT Pertamina (Persero). Pertalite pertama kali diluncurkan pada tanggal 24 Juli 2015 di SPBU 31.1.02.02 Abdul Muis, Jakarta Pusat.

Peluncuran Pertalite sekitar 8 tahun lalu bertujuan untuk memangkas konsumsi BBM subsidi, yakni Premium. Pada saat itu, Pertalite masih belum masuk ke dalam golongan BBM bersubsidi karena masih ada Premium. Namun, ketika Premium dihapuskan pada 10 Maret 2022 lalu, Pertalite langsung menggantikannya menjadi BBM bersubsidi.

Pertalite memiliki kandungan oktan 90, sedangkan Premium memiliki kandungan oktan 88. Kandungan oktan yang lebih tinggi membuat Pertalite lebih irit dan memiliki emisi gas buang yang lebih rendah.

Kenaikan Harga Pertalite 5 Tahun Terakhir

Harga Bahan Bakar Minyak (BBM) di Indonesia mengalami kenaikan secara signifikan dalam kurun waktu 5 tahun terakhir. Kenaikan ini disebabkan oleh berbagai faktor, seperti kenaikan harga minyak dunia, nilai tukar rupiah yang melemah, dan kebijakan pemerintah untuk mengurangi subsidi BBM.

Pada tahun 2018, harga BBM Pertalite masih di kisaran Rp7.800 per liter. Namun, harga BBM ini mengalami kenaikan sebesar 10% pada tahun 2019 menjadi Rp8.580 per liter. Kenaikan harga BBM ini sempat ditunda pada tahun 2020 karena adanya pandemi COVID-19. Namun, pemerintah akhirnya menaikkan harga BBM pada tahun 2021 sebesar 12% menjadi Rp9.400 per liter.

Kenaikan harga BBM yang signifikan terjadi pada tahun 2022. Pemerintah menaikkan harga BBM Pertalite sebesar 30% menjadi Rp10.000 per liter, solar subsidi sebesar 40% menjadi Rp6.800 per liter, dan Pertamax non-subsidi sebesar 38% menjadi Rp14.500 per liter. Kenaikan ini dilakukan untuk mengurangi beban subsidi BBM yang mencapai Rp502 triliun pada tahun 2022.

TahunBBMHarga Awal (Rp/liter)Harga Akhir (Rp/liter)Kenaikan (%)
2018Pertalite7.8007.800
2019Pertalite7.8008.58010
2020Pertalite8.5808.580
2021Pertalite8.5809.40012
2022Pertalite9.40010.0006,3
2023Pertalite10.00010.000
tabel kenaikan harga pertalite 5 tahun terakhir

D. Bahan bakar apa yang menggantikan Pertalite?

PT Pertamina (Persero) berencana untuk mengganti Pertalite dengan BBM RON 91 yang diberi nama Pertamax Green 92. Pertamax Green 92 akan dijual dengan harga yang lebih tinggi dari Pertalite, yaitu Rp12.000 per liter.

Pertamax Green 92 memiliki kandungan oktan 92, yang lebih tinggi dari Pertalite. Kandungan oktan yang lebih tinggi membuat Pertamax Green 92 lebih irit dan memiliki emisi gas buang yang lebih rendah.

Pertamax Green 92 direkomendasikan untuk digunakan pada kendaraan dengan kompresi mesin 10:1 hingga 11:1. Kendaraan dengan kompresi mesin yang lebih tinggi membutuhkan BBM dengan oktan yang lebih tinggi pula.

Berikut adalah tabel perbandingan antara Pertalite dan Pertamax Green 92:

ParameterPertalitePertamax Green 92
Oktan9092
HargaRp10.000 per literRp12.000 per liter
Kompresi mesin9:1 hingga 10:110:1 hingga 11:1
KeunggulanHarga lebih terjangkau, lebih irit, emisi gas buang lebih rendahIrit, emisi gas buang lebih rendah
KekuranganKandungan oktan lebih rendah, lebih mudah terbakarHarga lebih mahal, tidak tersedia di semua SPBU
tabel perbandingan pertalite dengan pertalite green 92

E. Kesimpulan

Setiap kebijakan yang diambil pemerintah pasti ada pro dan kontra, namun tentunya kita sebagai warga negara yang baik harus memandang dari dua sisi yang berdeda dalam menyikapi rencana penghapusan pertalite ini, sehingga kita tidak terlalu berfikir negative dan ovethinking terhadap apa yang akan terjadi.

Redaksi : Dirangkum dari berbagai sumber