Blora-Infomuria.com-Pelaksanaan salat Idulfitri 1446 Hijriah berlangsung khidmat dan menorehkan sejarah di masjid Nurul Falah Perumnas Kelurahan Karangjati Kec/Kab Blora, Jawa Tengah, Senin (31/5/2025).
Nuansa kemeriahan Lebaran juga mewarnai umat Islam setempat.
Hal itu dikarenakan, baru tahun ini panitia penyelenggara kegiatan perayaan Idulfitri masjid Nurul Falah memanfaatkan potensi umat yang ada di Perumnas Karangjati baik dalam penggalangan dana maupun penunjukan Imam salat serta khotib.
Adapun bertindak sebagai imam salat Idulfitri adalah KH. Zainudin, SH., MH., dan khotib/penceramah KH.Wasit Nur Islah S.Ag.
Sementara jemaah yang hadir dalam salat Idulfitri melimpah ruah hingga memanfaatkan areal Taman Perumnas Karangjati untuk ibadah.
Sebelum salat berjamaah Idulfitri dimulai, diawali laporan oleh ketua Takmir Masjid Nurul Falah yang diwakili oleh Agus Budi Sukrisno yang dikenal kyai Gaul perumnas.
Ia melaporkan dana yang masuk selama bulan Ramadan sebagai berikut :
-Dana kegiatan ruah bersama dari umat sebesar Rp17.500.000,00.
-Dana keikhlasan dari umat melaluhi edaran list berputar Rp24.000.000,00.
-Dana melaluhi infak tarawih Rp15.400.000,00 selama satu bulan.
-Dana infaq melalui kegiatan pemungutan zakat Rp7.250.000,00.
-Dana dari zakat mal Rp8.550.000,00.
-Dana masuk dari pemberian takjilb (berupa makanan) bila diwujudkan uang dari umat Islam setempat lebih dari Rp8.000.000,00 selama satu bulan.
-Dana infak Idulfitri Rp8.755.000,00.
Kemudian esensi tausiah Salat Idulfitri 1446 H yang disampaikan oleh khotib KH. Wasit Nur Islah di antaranya bahwa Idulfitri 1 Syawal 1446 H adalah saatnya umat muslim merayakan kemenangan dan keberkahan, setelah satu bulan penuh para umat Islam digembleng di kawah candradimuka untuk mengendalikan diri dari segala hawa nafsu yang pada diri manusia untuk menjadikan diri kembali fitri dengan jiwa jiwa yang suci sehingga masuk golongan orang-orang muttaqin.
“Idulfitri bukan sekedar perayaan, bukan pakaian baru dan hidangan yang lezat apalagi melampiaskan kegembiraan dengan pesta pora,” tuturnya.
Melainkan Idulfitri adalah momentum menguatkan tekad baja menjadi hamba Allah yang patuh pada perintahNya dan dengan sekuat tenaga meninggalkan segala yang dilarang oleh Allah SWT.
“Disamping itu Idulfitri adalah tentang panggilan untuk kembali pada kesucian, memperkuat silaturahmi dan membangun kebersamaan,” jelasnya.
Untuk mewujudkan kesucian diri ada dua hal yang perlu kita pahami dan tancapkan dalam hati diri kita masing-masing.
Pertama, penguatan dimensi vertikal kepada Allah SWT, melalui penguatan ibadah dan meraih ampunan atas segala dosa.
Kedua, adalah penguatan dimensi horizontal kepada sesama manusia, melalui kepekaan sosial dan senantiasa menebar kebaikan dan cinta kasih.
Jika dua hal itu mampu diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, maka yakin kehidupan kita akan dinaungi kebahagian sampai di akhir masa.
Sebagaimana tersurat dalam Surat Ali Imran ayat 133 : “Bersegeralah menuju dari Tuhanmu dan surga yang luas seperti langit dan bumi yang disediakan bagi orang orang bertakwa”.
Dilanjutkan dengan firman Allah SWT pada Surat Ali Imran ayat 134 : “Orang orang yang selalu berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, orang-orang yang mengendalikan kemurkaannya, dan orang orang yang memaafkan kesalahan orang lain. Allah mencintai orang orang yang berbuat kebaikan”.
“Dari surat Ali Imran ayat 134 Allah memerintahkan agar kita melaksanakan hal-hal ya positif untuk berbuat kebaikan,” jelasnya.
Ramadan dan Idulfitri menjadi momentum pembuktikan. Saat berpuasa kita diminta untuk melakukan pengendalian diri, namun di saat Idulfitri kita diminta untuk saling memaafkan.
Utamakan meminta maaf kepada orang tua kita yang telah berjasa dalam kehidupan kita dan menghantar kita meraih kesuksesan kehidupan di dunia.
Allah berfirman : “Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaknya berbuat baik kepada orang tua. Jika salah seorang diantara keduanya atau kedua duanya sampai usia lanjut dalam pemeliharaanmu,sekali kali jangan engkau mengatakan kepada keduanya perkataan”ah” dan jangan engkau membentak keduanya, serta ucapkan kepada keduanya perkataan yang baik”.(Surat Al-Isra’ ayat 23).
Berbakti kepada orang tua tidak hanya saat mereka masih hidup di dunia.
Bagi orang tua yang sudah meninggal dunia,bukan berarti selesai bakti kita kepada mereka.
Ziarahi makamnya dan berdoalah kepada Allah untuk mengampuni segala dosa dan menerima amal ibadahnya.
“Selamat Idulfitri 1446 H, semoga kita menjadi suci dan manusia yang paripurna berguna bagi nusa, bangsa dan agama,” tutupnya.
Kegiatan ritual itu diakhiri dengan agenda bersalam salaman diantara umat Islam yang hadir dengan mengucapkan mohon maaf lahir batin.
Sumber : Humas Pemkab